• Jelajahi

    Copyright © Metronewstv.co.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Kabupaten Banyuasin

    Pemred

    Sports

    Ketua PPWI Jabar Berkomitmen Tingkatkan Profesionalisme, Tepis Stigma "Wartawan Abal-Abal"

    Metronewstv.co.id
    Friday, April 4, 2025, 17:54 WIB Last Updated 2025-04-04T10:54:42Z

    JABAR - Ketua Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Jawa Barat, Agus Chepy Kurniadi, menyesalkan masih adanya anggapan bahwa sebagian wartawan yang tergabung dalam PPWI Jabar disebut sebagai wartawan abal-abal.


    Menurut Agus Chepy, istilah tersebut muncul akibat minimnya pemahaman terhadap standar profesi jurnalistik. “Kenapa sampai muncul istilah wartawan abal-abal? Ini menjadi tantangan bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas dan profesionalisme anggota PPWI di Jawa Barat,” ujarnya.


    Istilah wartawan abal-abal umumnya mengacu pada individu yang tidak menjalankan tugas jurnalistik secara profesional, seperti kurangnya kompetensi dalam menulis berita, tidak bernaung di media yang kredibel, atau bahkan menyalahgunakan profesinya untuk kepentingan pribadi. Selain itu, sebagian kasus juga terjadi karena media tempat mereka bekerja memiliki legalitas yang lemah, misalnya belum berbadan hukum atau dengan dalih "cemilan", karena tidak terverifikasinya di Dewan Pers.


    Untuk menghindari stigma tersebut, Agus Chepy berkomitmen melakukan pembinaan dan pelatihan bagi anggotanya yang tersebar di 27 kota/kabupaten di Jawa Barat. “Kami ingin mencetak wartawan yang handal, profesional, dan mumpuni. Sehingga tidak ada lagi anggapan wartawan ‘CNN’ atau ‘Can Nulis-Nulis’ dalam istilah Sunda,” tegasnya.


    Sebagai langkah nyata, Agus Chepy berencana menggandeng pewarta senior, baik dari jajaran PPWI Jabar maupun menggandeng Ketua Umum PPWI dan jajarannya, guna memberikan pelatihan dan pendampingan bagi para anggota. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas jurnalisme warga serta membangun kepercayaan publik terhadap profesi pewarta di lingkungan PPWI Jabar.


    Istilah wartawan abal-abal sering digunakan untuk menyebut individu yang mengaku sebagai wartawan tetapi tidak menjalankan tugas jurnalistik secara profesional. Ada beberapa ciri yang sering dikaitkan dengan wartawan abal-abal, antara lain:


    1. Minim Kompetensi Jurnalistik – Tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang kaidah jurnalistik, seperti teknik peliputan, penulisan berita, serta kode etik jurnalistik.


    2. Tidak Bernaung di Media Kredibel – Terkadang mereka bekerja untuk media yang belum jelas legalitasnya atau bahkan tidak terdaftar di Dewan Pers.


    3. Memanfaatkan Profesi untuk Kepentingan Pribadi – Ada kasus di mana oknum wartawan menggunakan profesinya untuk menekan narasumber demi kepentingan pribadi, seperti meminta uang atau fasilitas tertentu.


    4. Tidak Mematuhi Kode Etik Jurnalistik – Wartawan yang bekerja secara profesional mengikuti kode etik jurnalistik, seperti menyajikan berita berdasarkan fakta dan melakukan verifikasi. Wartawan abal-abal cenderung menyebarkan berita yang tidak akurat atau bahkan hoaks.


    Terkait dengan legalitas media, memang ada media yang masih lemah secara hukum, misalnya:


    Tidak berbadan hukum yang sah (seperti PT yang bergerak di bidang pers).


    Tidak terdaftar di Dewan Pers sebagai perusahaan pers yang resmi.


    Tidak memiliki struktur redaksi yang jelas dan tidak menerapkan standar jurnalistik yang sesuai.


    Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua wartawan dari media kecil atau yang katanya belum terverifikasi oleh Dewan Pers bisa langsung dianggap abal-abal. Jika mereka bekerja sesuai kode etik dan standar jurnalistik, mereka tetap layak dihormati sebagai wartawan yang sah.


    Jadi, istilah wartawan abal-abal lebih merujuk pada individu yang tidak menjalankan tugas jurnalistik dengan baik, bukan semata-mata karena media tempatnya bekerja lemah secara legalitas. 


    (M.Nurul)

    Komentar

    Tampilkan